Category Archives: Fiksi

Apaan sih ini?

Kejadian ini aku melihat secara langsung di sebuah restoran berkelas di salah satu pusat kota. Seperti biasa, semua pasangan pastinya menghabiskan Sabtu malam dengan suasana romantis. Kalau melihat pasangan yang sempurna yaitu Pria tampan dan Wanita cantik, pasti semua iri, ya termasuk aku. Tapi, apakah di dunia ini ada kesempurnaan? Termasuk pasangan sempurna? Aku mencoba terus berpikir, namun kemudian datanglah seorang (atau mungkin seboneka) beruang Tedi. Tampaknya Tedi tidak suka Pria tampan dan Wanita cantik  bersama yang menimbulkan atmosfer romantis. Kemudian, aku mendengar apa yang mereka ucapkan.

 

Tedi : “Jadi gini, gue gak suka lo jalan sama cowok ini!”

Wanita cantik : “Terus, mau lo apa?”

Pria tampan hanya bengong dengan berjuta tanya.

Tedi : “Setiap malam, lo nangis gara – gara dia kan? Tapi apa yang kulihat sekarang? Lo berduaan sama cowok yang selalu buat lo nangis?”

Wanita cantik : “Dengar! Sekarang ulang tahun gue, jangan rusak acara gue!”

Tedi : “Bukan gitu, tapi tujuan gue ke sini karena mulai detik ini gue gak mau hanya jadi boneka lo yang selalu  jadi tumpahan air mata lo! Gue akan merebut lo dari cowok tampang bego ini!”

Wanita cantik : “Coba aja kalau berani.”

Dan sama seperti saat mereka mulai bicara, Pria tampan hanya bengong mencoba mencerna situasi di depannya.

Sayangnya aku tak medengar perdebatan mereka hingga selesai. Ya, seperti biasa, kekasihku harus mengantarkanku ke rumah sebelum jam dua belas malam.

jumlah kata : 222

Advertisements

Detik

Tubuh jangkung memakai jas hitam yang tampak pas meskipun lengan dari jas tersebut terlihat agak sedikit panjang, tapi tak membuat ketampanannya berkurang. Aku berusaha menahan tawa, tak ada yang salah dengan jas hitam yang ia pakai, tak ada yang salah dengan tatanan rambut yang rapi cenderung berminyak karena terlalu banyak minyak rambut yang ia pakai, tak ada yang salah dengan kumis tipis yang dibiarkan tumbuh liar. Tak ada yang salah dari dirinya.

“Kamu tampan,” ucapku memecah keheningan.

“Ah jangan ngejek. Ini bukan aku yang biasanya,” mata sipitnya beradu dengan kacamata yang agak longgar di hidungnya.

Akhirnya aku terbahak – bahak tak kuat menahan. Perubaha yang luar biasa dari seorang anak band metal berubah seratus delapan puluh derajat menjadi seorang don juan.

“Kamu akan selalu di sisiku kan?” matanya mulai menatapku penuh ketakutan.

“Aku lelah, pun kamu.” jelasku singkat.

“Aku mencintaimu.”

Aku hanya menganggukkan kepala, mengiyakannya. Menghirup pelan aroma ruangan yang sudah satu tahun aku tempati. Tergeletak kasar infus dan obat – obatan yang membuatku semakin muak. Mencoba menutupi semua rambutku yang rontok di bawah bantal berwarna putih. Aku lelah dengan semau tatapan mengharapku kembali seperti dulu, aku ingin melepaskan semuanya, ini menyiksaku.

“Kamu mau ke mana?”

“Kemana aja.”

“Oke! aku siap asal kamu bahagia.”

“Kamu juga harus bahagia.”

Tak lagi memakai kursi roda, membiarkan aku untuk bersandar di bahunya. Menikmati setiap pelukkan darinya. Meskipun ini hari terakhir, aku akan menatap surga dengan bahagia. Melepas semua. Aku ingin dia bahagia, meskipun tanpaku.

Aku dan Kamu

“Sudah siap?” satu pertanyaan yang terlontar darinya. Satu pertanyaan yang mempertanyakan nyaliku. Pertanyaan itu bukan untukku melainkan untuk hatiku.

Aku mengangguk pelan. Dia, membalas dengan senyuman manis, mencoba menenangkan. Aku terjebak dalam dua pilihan. Hatiku menolak untuk melakukannya. Tetapi egoku berpacu untuk segera melakukannya. Tanganku dingin, tak tahu apakah ada masa depan setelah ini.

“Jangan, untuk apa kamu melakukan ini?!”

“Bodoh! Jangan dengarkan dia!”

“Sadar! Percuma saja kamu bertahan tetapi pada akhirnya sia – sia.”

“Ah, ini yang terbaik. Percayalah padaku!”

“Ingat berpuluh – puluh air mata akan keluar begitu saja jika kamu melakukan ini.”

“TIDAAAAAAAAAAAAK!!!!” Aku mengusri semua suara yang menghantuiku,

Tubuhku seakan menyatu dengan angin, ringan. Melayang.

Aku melihat pria pujaanku terbujur kaku, setelah itu aku menyusulnya. Biarkan di bawah tebing ini menjadi saksi cinta kita. Daripada aku harus menjual cintaku dengan perjodohan yang sama sekali menyiksa.

I Love You

Tik..tok..tik..tok..

Detak jarum jam seakan mewakili jantungku yang degupannya semakin lama semakin melambat. Tubuhku terserang hawa dingin yang dahsyat. Kulirik remote AC, ternyata masih cukup normal. Tetapi, mengapa aku merasakan hawa dingin yang menusuk tulangku.

Berkali – kali melirik jam dinding, entah apa yang aku pikirkan. Memberanikan diri untuk melangkah ke rumah ini. Sebenarnya cukup sering aku berkunjung ke rumah ini. Tetapi malam ini terasa berbeda, tetapi aku harus bisa menguasai diriku sebelum rencana yang telah aku susun jadi berantakan. Ya, aku pasti bisa.

Berkali – kali aku menggoyang – goyangkan kaki kananku untuk mengusir rasa cemas yang tak tentu. Berharap semua yang aku lakukan malam ini berjalan dengan lancar.

“Hai, sudah lama menunggu?” Sapa Mala.

“Wah, enggak perlu repot – repot Mal,” ucapku basa – basi.

“Ah, enggak kok Dit, kan cuma sirup melon doang, kesukaanmu kan?”

Aku tersenyum mendengar kalimat itu, ternyata Mala perhatian kepadaku. Mala mulai menyuguhkan satu gelas sirup melon dingin di depanku. Sedikit merapikan rok pendeknya, dia duduk di sebelahku. Iya, tepat di sebelahku. Kaki Mala terlihat jenjang ketika ia memakai rok pendek berwarna merah muda, sangat pantas dengan kakinya yang putih mulus.

“Ada perlu apa?” Mala membuka percakapan.

“Hmm.. anu, begini Mal. Kamu tahu kan kalau kita sudah kenal lama?” Aku sudah mengucapkan kalimat pertama. Mala berdehem lembut.

“Aku sayang sama kamu Mal,” entah setan apa yang merasukiku, seketika itu aku berani mengungkapkan perasaanku.

“Iya, Mala tahu. Mala juga sayang sama Adit,” jawab Mala singkat.

Mendengar jawaban Mala, aku tersenyum lebar. Mencoba meraih tangan mala yang lebih kecil dari tanganku. Aku ingin sekali mengucapkan jika aku mencintai Mala, bukan sekali tapi ingin berkali – kali aku ucapkan.

“Mala sudah anggap Adit sebagai Kakak. Adit selalu ada ketika Mala susah, Mala senang memiliki Kakak seperti Adit.” Ucap Mala sekali lagi dengan senyum simpulnya.

Seketika udara saat itu dingin berubah menjadi hawa panas yang menyengat lebih panas dari pada arang yang telah terbakar di perapian.

%d bloggers like this: