Ada Tangan yang Misterius

Bersedekah, banyak sekali alasan untuk kita bersedekah. Dimulai dari tuntunan agama yang mengharuskan kita berlomba – lomba pada kebaikan pun untuk alasan kemanusiaan, baik yang bersedekah maupun yang menerima sedekah mendapatkan tujuannya masing – masing.

Ilmu bersedekah lebih banyak aku dapatkan dari pengalaman daripada dari buku, maklum ya kalau baca – baca buku suka “Baca hari ini, besok lupa” karena itu pengalaman – pengalaman yang didapatkan dari keseharian membuat pemahaman akan sedekah dapat bertambah.

Ada yang mengutip sebagian hadist jika lebih baik bersedekah itu secara diam – diam, ibaratnya tangan kanan memberi, usahakan tangan kiri tidak melihatnya. Tapi, ada juga yang mengutip sebagian hadist bahwa dibolehkannya sedekah secara terang – terangan dengan tujuan untuk memberikan contoh kepada orang lain. Nah, bagaimana dengan aku? Untuk sementara ini, aku lebih memilih sedekah secara diam – diam. Mungkin, suatu saat nanti jika sudah menjadi Ibu, pasti melakukan sedekah secara terangan – terangan di depan anak – anakku, dengan tujuan anak – anak juga ikut melakukan kebaikan. Anak – anak harus diberikan contoh mulai dari orangtuanya.

Karena saat ini sukanya bersedekah secara diam – diam alias tidak mengumbar ke publik, tapi kali ini mau bercerita sedikit tentang bersedekah yang aku lakukan. Agar nantinya juga sebagai catatan diri sendiri jika nantinya khilaf dan lupa akan bersedekah karena mata berkilau akan harta, semoga tulisan ini juga sebagai teguran untukku.

Aku yang terbiasa pergi dan pulang naik angkot, begitu juga kalau mau ke Malang untuk belajar, harus menggunakan bis. Kehidupan terminal sudah akrab di kehidupanku. Saat itu, Hari Sabtu harus pergi ke Malang karena ambil arsip, karena tidak menginap aku berusaha urusan di Malang selesai sebelum sore.

Seperti biasanya menunggu bis yang bisa dibilang tumben banget bis Surabaya – Malang lamaaaa sekali. Suasana terminal Surabaya sudah berbenah, tidak ada calo – calo yang suka narik tangan penumpang seenak udelnya, dan sudah ada tempat khusus untuk perokok meskipun belum maksimal penggunaannya.

Akhirnya, aku duduk di bis patas dengan AC yang cukup dingin. Tak selang beberapa lama, ada seorang pengamen wanita. Sempat heran, pengamen wanita ini kok bersih. Maksudnya penampilannya tidak seperti pengamen yang cenderung (maaf) berpenampilan seperti preman. Suaranya juga merdu, tidak seperti menyanyi yang asal – asalan, dan bau tubuhnya juga lumayan wangi. Aku pun tidak segan untuk memberikan uang lembaran ijo ke pada pengamen wanita itu dan wajahnya sumringah, berkali – kali mengucapkan terimakasih kepadaku.

Rasanya melewati hari itu di Malang seperti melewati satu minggu. Urusan untuk arsip rasanya kok ya ada aja halangannya, yang angkot menuju kampus lama banget plus bikin pusing, pulpen ketinggalan, hampir diserempet motor, padahal jelas – jelas aku nyebrang jalan saat tanda untuk pejalan kaki warna ijo, mau makan siang eh warungnya tutup, akhirnya beli pecel, eh pecelnya kemahalan plus rasanya biasa saja. Tepat jam 4 sore aku sudah berada di terminal Arjosari, Malang. Diiringi dengan perasaan penat yang teramat.

Sampainya di rumah, keluarga lagi asyik berdiskusi tentang masalah kerjaan kakakku. Yang aku dengar sih, salah satu nasabahaya ada yang mengisi data fiktif dan ternyata juga bermasalah dengan salah satu developer. Dan untungnya permasalahan yang bikin cenut – cenut dapat diselesaikan pada hari itu, semuanya lega termasuk aku. Mungkin, hari ini aku diberikan hari yang penuh “tantangan” meskipun katanya banyak orang bersedekah dapat menolak bala yang mendatangi kita. Tapi, aku bersyukur jika ALLAH memberikan salah satu “tangannya” untuk mempermudah urusan saudaraku yang kadar kesulitannya lebih tinggi daripada urusanku.

Urusan pahala bersedekah seberapa beratnya dan kapan dibalas, itu merupakan urusan sang Ilahi, sepatutunya kita hanya berbuat baik (besedekah) dengan niat baik dan tak berburuk sangka.

 

giveaway 1

Advertisements

Tagged: , ,

2 thoughts on “Ada Tangan yang Misterius

  1. Nunung Yuni Anggraeni February 19, 2015 at 12:17 pm Reply

    Terima kasih sudah berbagi inspirasi mak Sari 🙂

    Like

  2. Murtiyarini March 3, 2015 at 9:42 am Reply

    halo..juri berkunjung. Goodluck

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: