Monthly Archives: February 2015

Mimpi Sekarang. Action, Now!

Hal yang gratis saat ini dan bisa dinikmati berkali – kali adalah bermimpi. Beneran deh, karena banyak yang bilang, “Nggak ada yang gratis di dunia ini, mau ke toilet aja bayar.” Nah, mumpung bermimpi itu gratis, bermimpilah sampai kenyang!

Menjalani satu hari, pastinya berawal dari sebuah mimpi, hari ini menyenangkan maupun biasa – biasa saja tergantung apa yang kita mimpikan. Mimpi hanya sekadar mimpi jika mimpi itu hanya tergeletak di atas bantal, sedangkan mimpi bakalan menjadi kenyataan jika mimpi itu kita bawa dalam pundak kita kemanapun kita pergi.

Ah.. kalau ngomong itu mudah, kalau dijalani pasti sulit.

Iya sih, emang bener kalau hanya ngomong doang semua orang juga bisa. Tapi, dari sebuah ucapan yang dilandasi oleh sebuah niat, insya ALLAH sebuah ikhtiar mati – matian untuk mewujudkan sebuah mimpi, tak terkecuali mimpi yang saat ini masih aku pegang.

Berawal dari iseng – iseng berjualan di sekolah, jualan coklat di kelas, meski untung hanya sedikit tapi menimbulkan rasa puas tersendiri. Hingga berlanjut ke jenjang perkuliahan, memiliki tim penjualan yang terdiri dari beberapa teman – teman, hingga proposal kewirausahaan diterima dan masuk ke tingkat Universitas, meskipun akhirnya tidak lolos untuk tinggkat nasional. Berjalan beberapa tahun, akhirnya harus berhenti karena teman – teman banyak yang memutuskan untuk bekerja di sektor formal. Sedangkan aku ingin sekali berwirausaha walaupun seorang diri.

Awalnya memiliki tim, kemudian berdiri sendiri memang terasa beratnya, biasanya ramai – ramai mikul beban, eh sekarang sendirian. Mulai dari nol, modal yang masih tersisa untuk kulak’an lagi alias menjadi reseller ini itu. Kenyang sebenarnya dan tapi masih ada rasa lapar yang entah apa namanya.

Jika bisa jualan dagangannya orang, seharusnya bisa dong bikin produk sendiri.

Iya, itu pikiran yang terlintas. Mengapa nggak mencoba jualin dagangan sendiri, menjadi produsen. Pertama kali yang aku lakukan adalah mencari “Fokus” ini berkaitan dengan branding itu sendiri, kalau fokus di salah satu bidang yang kita tekuni, konsumen akan dengan cepat mengenal produk kita.

Kemudian mencari passion, sesuatu yang dilakukan dengan passion, insya ALLAH tidak akan menjadi beban, mudah saja mencari passion, karena dekat sekali dengan keseharian kita. Akhirnya memutuskan untuk membuat produk crafting dengan fokus ke sesuatu yang berkaitan dengan organizer. Jujur saja, aku orangnya suka yang suka segala sesuatu tersusun rapi.

Mulai mencari ide dan aplikasi, semua ini memang gampang – gampang susah, karena harus menciptakan yang “Aku banget” ya berbekal dari pengalaman plus riset kecil – kecilan yang harus menjadikanku peka. Jadi, aku sudah dapat :

1. Fokus.

2. Passion

3. Ide

4. Aplikasi.

Setelah keempat itu, waktunya untuk action! Yup, minggu ini melakukan action yang bikin deg – degan, dimulai dari mebuat tas, dompet organizer dengan cita rasa “personal” dari aku sendiri. Sudah aplikasi yaitu berupan desain – desain “kasar” produk, mau jahit ini – itu.

Ssssst…. sengaja belum bocorin nama produknya, karena masih rahasia.

Garis besarnya yaitu crafting (handmade) dan Organizer. Nah itu yang perlu digali lebih dalam lagi, agar Bulan Maret atau April sudah bisa meluncurkan dan semoga bisa diterima di masyarakat.

Persaingan memang ketat, apalagi di dunia ini tidak ada yang baru, semua hanya bersifat inovasi, semakin diri kita memiliki ciri khas yang unik, akan semakin membekas di ingatan mayarakat manapun. Semoga tidak ada aral melintang, meskipun tidak dipungkiri, modal masih sesak di dada juga (hehehehe) tapi bukan alasan untuk berhenti berkarya.

 

 

 

 

 

Advertisements

Perfect Match, Perfect Love

Bulan Februari bulan yang penuh cinta, tepat rasanya jika kita berbagi cinta dengan orang terkasih. Pilihan tepat untuk cinta yang aku berikan adalah Ibu. Cinta seorang Ibu sepertinya tidak bisa diukur, lebih luas dari samudera, lebih tinggi dari gunung dan lebih dalam dari lautan. Ibu, tempat aku kembali dari segala rasa penat dari segala aktifitas, hanya dengan pelukkannya, aku kembali kuat menghadapi dunia. Ibu, yang tak pernah lelah untuk selalu memaafkan aku dan tangan terbuka ibu membuatku tak ingin beranjak dari dekapannya. Tak heran jika cinta Ibu, long lasting.

Ibu yang memiliki dua puteri yaitu aku dan kakak pertama memiliki dunia yang warna – warni, kedua anak gadis yang suka berlama – lama di cermin, membuat Ibu senyum – senyum kecil melihat setiap gerak – gerik kami. Mulai dari berdandan ala princess atau memakai gaun – gaun kecil yang cantik.

Kini, aku dan kakak beranjak dewasa, suka sekali join peralatan make up. Ternyata Ibu juga mellihat keasyikan tersendiri bermake up cantik bersama puterinya, kadang satu peralatan make up untuk bertiga, kadang aku tak sungkang untuk pinjam peralatan make up yang Ibu punya, begitu juga sebalinya. Kita suka sekali pinjam make up hingga pinjam baju maupun aksesoris yang kita punya. Jangan salah loh, selera fashion maupun make up kita bertiga beda – beda tipis, suka sekali aplikasi warna – warna make up. Tapi, sayangnya Ibu masih saja berkutat dengan warna – warna natural, seperti warna cokelat, nude, baige dan sejenisnya. Padahal warna – warna cerah pantas juga kok kalau di-match dengan warna natural.

Maka dari itu, aku ingin memberikan make up dari make over agar Ibu memulai untuk aplikasi make up dengan warna – warna cerah dengan warna natural.

1. Make Over Perfect Matte Eye Shadow Pallete.

Alasan untuk memberikan Eye shadow pallete, yang pertama adalah warna – warna yang diberikan oleh brand Make over ini sangat cocok untuk segala umur, tidak mencolok namun warnanya segar. yang kedua selain bisa menjadi eye shadow, cocok juga loh untuk blush on. Jadi, paket lengkap ini multi fungsi, sekali menyelam minum air. Hemat tapi tetap cantik maksimal.

Make Over Perfect Matte Eye Shadow Pallete

 

2. Make Over Liquid Lip Color Pink Punch

Yang kedua masih produk make over karena warna dan teksturnya menggoda dan lembut. Warna pink yang tidak mencolok cocok untuk digunakan sehari – hari atau pada saat pesta. Ibu yang masih suka dengan warna baige, pasti suka dengan pink yang masih senada dengan beige tapi ditambah sentuhan yang lebih feminim.

Make Over Liquid Lip Color Pink Punch

 

Dengan kedua produk make over yang bisa dibeli di blibli.com. Rasanya nggak sabar untuk memberikan kepada Ibu dan siap beraksi untuk bermake up cantik atau bahkan aku dan ibu bisa make up match dengan tema valentine. Perfect Match, Perfect Love. Can’t Wait!

 

Tulisan ini sedang diikutsertakan dalam kompetisi yang diadakan oleh Blibli.com dengan tema #BlibliWeekofLove (Sari Widiarti. Email : kontak.sari@gmail.com , facebook : Sari Widiarti, twitter : @MentionSari, IG : @mentionsari)

 

 

Ada Tangan yang Misterius

Bersedekah, banyak sekali alasan untuk kita bersedekah. Dimulai dari tuntunan agama yang mengharuskan kita berlomba – lomba pada kebaikan pun untuk alasan kemanusiaan, baik yang bersedekah maupun yang menerima sedekah mendapatkan tujuannya masing – masing.

Ilmu bersedekah lebih banyak aku dapatkan dari pengalaman daripada dari buku, maklum ya kalau baca – baca buku suka “Baca hari ini, besok lupa” karena itu pengalaman – pengalaman yang didapatkan dari keseharian membuat pemahaman akan sedekah dapat bertambah.

Ada yang mengutip sebagian hadist jika lebih baik bersedekah itu secara diam – diam, ibaratnya tangan kanan memberi, usahakan tangan kiri tidak melihatnya. Tapi, ada juga yang mengutip sebagian hadist bahwa dibolehkannya sedekah secara terang – terangan dengan tujuan untuk memberikan contoh kepada orang lain. Nah, bagaimana dengan aku? Untuk sementara ini, aku lebih memilih sedekah secara diam – diam. Mungkin, suatu saat nanti jika sudah menjadi Ibu, pasti melakukan sedekah secara terangan – terangan di depan anak – anakku, dengan tujuan anak – anak juga ikut melakukan kebaikan. Anak – anak harus diberikan contoh mulai dari orangtuanya.

Karena saat ini sukanya bersedekah secara diam – diam alias tidak mengumbar ke publik, tapi kali ini mau bercerita sedikit tentang bersedekah yang aku lakukan. Agar nantinya juga sebagai catatan diri sendiri jika nantinya khilaf dan lupa akan bersedekah karena mata berkilau akan harta, semoga tulisan ini juga sebagai teguran untukku.

Aku yang terbiasa pergi dan pulang naik angkot, begitu juga kalau mau ke Malang untuk belajar, harus menggunakan bis. Kehidupan terminal sudah akrab di kehidupanku. Saat itu, Hari Sabtu harus pergi ke Malang karena ambil arsip, karena tidak menginap aku berusaha urusan di Malang selesai sebelum sore.

Seperti biasanya menunggu bis yang bisa dibilang tumben banget bis Surabaya – Malang lamaaaa sekali. Suasana terminal Surabaya sudah berbenah, tidak ada calo – calo yang suka narik tangan penumpang seenak udelnya, dan sudah ada tempat khusus untuk perokok meskipun belum maksimal penggunaannya.

Akhirnya, aku duduk di bis patas dengan AC yang cukup dingin. Tak selang beberapa lama, ada seorang pengamen wanita. Sempat heran, pengamen wanita ini kok bersih. Maksudnya penampilannya tidak seperti pengamen yang cenderung (maaf) berpenampilan seperti preman. Suaranya juga merdu, tidak seperti menyanyi yang asal – asalan, dan bau tubuhnya juga lumayan wangi. Aku pun tidak segan untuk memberikan uang lembaran ijo ke pada pengamen wanita itu dan wajahnya sumringah, berkali – kali mengucapkan terimakasih kepadaku.

Rasanya melewati hari itu di Malang seperti melewati satu minggu. Urusan untuk arsip rasanya kok ya ada aja halangannya, yang angkot menuju kampus lama banget plus bikin pusing, pulpen ketinggalan, hampir diserempet motor, padahal jelas – jelas aku nyebrang jalan saat tanda untuk pejalan kaki warna ijo, mau makan siang eh warungnya tutup, akhirnya beli pecel, eh pecelnya kemahalan plus rasanya biasa saja. Tepat jam 4 sore aku sudah berada di terminal Arjosari, Malang. Diiringi dengan perasaan penat yang teramat.

Sampainya di rumah, keluarga lagi asyik berdiskusi tentang masalah kerjaan kakakku. Yang aku dengar sih, salah satu nasabahaya ada yang mengisi data fiktif dan ternyata juga bermasalah dengan salah satu developer. Dan untungnya permasalahan yang bikin cenut – cenut dapat diselesaikan pada hari itu, semuanya lega termasuk aku. Mungkin, hari ini aku diberikan hari yang penuh “tantangan” meskipun katanya banyak orang bersedekah dapat menolak bala yang mendatangi kita. Tapi, aku bersyukur jika ALLAH memberikan salah satu “tangannya” untuk mempermudah urusan saudaraku yang kadar kesulitannya lebih tinggi daripada urusanku.

Urusan pahala bersedekah seberapa beratnya dan kapan dibalas, itu merupakan urusan sang Ilahi, sepatutunya kita hanya berbuat baik (besedekah) dengan niat baik dan tak berburuk sangka.

 

giveaway 1

%d bloggers like this: