Aku dan Kamu

“Sudah siap?” satu pertanyaan yang terlontar darinya. Satu pertanyaan yang mempertanyakan nyaliku. Pertanyaan itu bukan untukku melainkan untuk hatiku.

Aku mengangguk pelan. Dia, membalas dengan senyuman manis, mencoba menenangkan. Aku terjebak dalam dua pilihan. Hatiku menolak untuk melakukannya. Tetapi egoku berpacu untuk segera melakukannya. Tanganku dingin, tak tahu apakah ada masa depan setelah ini.

“Jangan, untuk apa kamu melakukan ini?!”

“Bodoh! Jangan dengarkan dia!”

“Sadar! Percuma saja kamu bertahan tetapi pada akhirnya sia – sia.”

“Ah, ini yang terbaik. Percayalah padaku!”

“Ingat berpuluh – puluh air mata akan keluar begitu saja jika kamu melakukan ini.”

“TIDAAAAAAAAAAAAK!!!!” Aku mengusri semua suara yang menghantuiku,

Tubuhku seakan menyatu dengan angin, ringan. Melayang.

Aku melihat pria pujaanku terbujur kaku, setelah itu aku menyusulnya. Biarkan di bawah tebing ini menjadi saksi cinta kita. Daripada aku harus menjual cintaku dengan perjodohan yang sama sekali menyiksa.

Advertisements

Tagged:

3 thoughts on “Aku dan Kamu

  1. yandhi ramadhana February 13, 2014 at 9:59 am Reply

    ini maksudnya mau bunuh diri bukan ya?

    Like

  2. evisrirezeki February 14, 2014 at 5:57 pm Reply

    Wah mereka bunuh diri 😦

    Like

  3. puteri amirillis February 18, 2014 at 4:24 am Reply

    Oh…cinta mati rupanya ya sari….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: